Kabar Terkini Resesi 2023 dan Tips Mengelola Keuangan Pribadi

JURNALJABAR.CO.ID –Berdasarkan survei Bloomberg, Indonesia masuk ke dalam 15 negara yang berpotensi mengalami resesi. Dalam daftar tersebut, Indonesia berada di peringkat ke-14 negara berpotensi resesi dengan presentase 3 persen, sementara posisi pertama ditempati oleh Sri Lanka.

Lantas apa itu resesi? Dilansir dari Kompas.com, resesi ekonomi atau resesi adalah periode saat terjadi penurunan roda perekonomian yang ditandainya dengan melemahnya produk domestik brotu (PDB) selama dua kuartal berturut-turut.

Dengan kata lain, resesi ekonomi adalah pelambatan atau kontraksi besar dalam kegiatan ekonomi.

Dampak ekonomi saat terjadi resesi sangat terasa dan efeknya bersifat domino pada kegiatan ekonomi.

Contohnya, ketika investasi anjlok saat resesi, secara otomatis akan mengilangkan sejumlah lapangan pekerjaan yang membuat angka PHK naik signifikan.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani juga memproyeksikan ekonomi dunia akan mengalami resesi pada 2023. Menanggapi hal itu, pakar perbankan, keuangan, dan investasi dari UGM, I Wayan Nuka Lantara, PhD, memberi tips cara mengelola keuangan pribadi menghadapi ancaman resesi ini.

Wayan menyampaikan bahwa resesi yang akan terjadi ke depan dikarenakan lonjakan inflasi sebagai dampak dari konflik Rusia-Ukraina. Peningkatan inflasi tersebut diikuti oleh kebijakan pengetatan moneter oleh bank sentral di negara Eropa dan Amerika dengan menaikkan tingkat bunga acuan yang akan berdampak juga pada kebijakan yang diambil bank sentral di negara lainnya.

Apabila bunga acuan meningkat, jelas Wayan, biaya modal dan bunga kredit yang akan ditanggung bisnis juga akan naik. Dampak lanjutannya biasanya diikuti oleh mata uang lokal yang melemah terhadap mata uang asing. Jika suatu negara memiliki banyak pinjaman dalam mata uang asing baik oleh pemerintah maupun swasta maka jumlah mata uang lokal yang akan dikeluarkan untuk membayar pinjaman dalam mata uang asing juga akan meningkat.

“Jika kondisi tersebut tidak membaik, maka kombinasi rentetan harga produk yang meroket, inflasi yang meningkat, bunga acuan kredit yang naik, serta pelemahan mata uang lokal pada akhirnya akan berisiko menyebabkan terjadinya krisis ekonomi global,” papar Wayan seperti dikutip dari laman ugm.ac.id, Ahad (02/10//22).

Lalu bagaimana cara mengelola keuangan pribadi menghadapi ancaman resesi ini? Wayan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang sembari melakukan revisi pada rencana keuangan yang sebelumnya sudah dibuat. Menurutnya, upaya penyiapan dana darurat penting dilakukan, namun perlu juga dibarengi upaya pada dua hal lainnya.

Pertama, Wayan, berupaya untuk mencari alternatif tambahan penghasilan selain dari gaji tetap. Misalnya, memanfaatkan hobi untuk bisnis, berjualan online, dan tetaplah rutin berinvestasi.

“Kedua, lakukan identifikasi ulang pada pos-pos pengeluaran. Di saat yang sama sembari mencari celah untuk melakukan penghematan pada pos-pos pengeluaran yang kurang penting atau yang bisa ditunda,” jelas Wayan.

Saat disinggung apakah masih aman melakukan investasi di tengah situasi yang serba tak menentu. Wayan menyebutkan bahwa investasi selama ini terbukti menjadi cara yang efektif untuk melawan dampak negatif inflasi. Pilihan investasi yang cocok untuk mengantisipasi terjadinya krisis ekonomi global menurutnya adalah menggeser bobot dana investasi lebih banyak pada aset investasi yang tergolong aman (safe haven).

Ia mencontohkan jenis investasi yang aman dilakukan antara lain deposito, emas, surat berharga yang diterbitkan oleh negara. Jika ingin mrlakukan investasi di saham, ia menyarankan sebaiknya invetasi pada saham-saham yang bergerak pada sektor industri yang defensif, tetap bisa bertahan meskipun ada krisis.

“Misalnya saham perusahaan yang bergerak di industri consumer goods, kesehatan, bank, energi dan utilitas,” kata Wayan.

adapun cara menurut Ghazali adalah dengan cara-cara berikut:

1. Lindungi sumber penghasilan

Kita diimbau untuk tidak pindah pekerjaan sebelum ada kepastian pekerjaan baru yang lebih stabil.

Semntara bagi para pengusaha, Gozali menyarankan agar kita kembali mempertimbangkan ekspansi.

2. Miliki dana cadangan

Gozali menganjurkan agar kita memiliki dan menjaga dana cadangan 3-12 kali pengeluaran bulanan dalam bentuk liquid.

“Artinya, kalau sekarang kurang dari itu, bisa ditambah dengan mengurangi aset risiko tinggi dan menambah likuiditas,” kata Gozali.

3. Tahan pembelanjaan besar, terutama kredit

Kita harus mempelajari risiko saat berencana kredit kendaraan atau rumah.

“Apakah cukup aman untuk melanjutkan rencana tersebut. Jangan terlalu memaksakan, misalnya menggunakan dana cadangan untuk bayar DP (down payment). Intinya dana cadangan menjadi semakin penting, jangan terpakai untuk hal lain dulu. Bahkan kalau bisa ditambah,” imbuh Gozali.

4. Tetap belanja secara rutin

Gozali mengatakan bahwa aktivitas belanja hal-hal penting yang dilakukan rumah tangga bisa menjadi pendorong ekonomi yang dominan.

Resesi 2023 adalah “Kebangkrutan Besar & Krisis Finansial Berlarut”

Inflasi tinggi melanda berbagai negara membuat bank sentralnya agresif menaikkan suku bunga.

Bank sentral Amerika Serikat (The Fed) misalnya, sepanjang tahun ini kenaikannya sebesar 300 basis poin, menjadi 3% – 3,25% dan masih akan terus berlanjut.

Pada November nanti, bank sentral paling powerful di dunia ini diperkirakan akan menaikkan lagi sebesar 75 basis poin menjadi 3,75% – 4%. Tidak cukup sampai di situ, kenaikan masih akan terus dilakukan hingga awal tahun depan.

Berdasarkan data dari perangkat FedWatch milik CME Group, pasar melihat suku bunga The Fed berada di level 4,75% – 5% pada Februari 2023.

Langkah agresif tersebut dilakukan guna menurunkan inflasi yang saat ini masih berada di dekat level tertinggi dalam 40 tahun terakhir.

Jika inflasi tidak juga turun, maka stagflasi yang akan terjadi, dan ini lebih buruk ketimbang resesi.

Tidak seperti resesi yang sering terjadi, stagflasi cukup langka. Istilah stagflasi pertama kali muncul pada 1970an di Amerika Serikat (AS), dan belum lagi pernah terjadi.

Stagflasi merupakan periode pelambatan atau stagnannya perekonomian disertai dengan inflasi yang tinggi. Sementara resesi merupakan kontraksi pertumbuhan ekonomi setidaknya dalam dua kuartal beruntun.

Efek keduanya sama-sama buruk bagi perekonomian maupun masyarakat, tetapi stagflasi bisa lebih parah.

Ketika inflasi tinggi dan produk domestik bruto (PDB) melambat atau stagnan, maka perlahan-lahan kondisi ekonomi akan semakin memburuk atau ‘mati pelan-pelan’.

Saat kondisi perekonomian memburuk, pemutusan hubungan kerja (PHK) akan terjadi secara masif, dan tingkat pengangguran akan meroket. Inflasi dan tingkat pengangguran yang tinggi bisa menjadi ciri khas dari stagflasi. Sebab, keduanya biasanya berkebalikan.

Ekonom Nouriel Roubini, atau yang dikenal dengan Dr. Doom, ketika sukses memprediksi krisis finansial 2008, kini memproyeksikan resesi akan menghantam Amerika Serikat di akhir 2022 sebelum menyebar secara global tahun depan.

“Ini tidak akan menjadi resesi yang singkat dan dangkal, ini akan menjadi resesi yang parah, panjang dan buruk,” kata Roubini, sebagaimana dilansir Fortune, Rabu (21/9/2022).

Ia melihat kondisi ekonomi saat ini mirip dengan 2007/2008, dilihat dari tingginya utang negara dan korporasi. Menurut Roubini angka rasio jumlah utang swasta dan publik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global yang telah melonjak dari 200% pada 1999 menjadi 350% tahun ini.

Artinya ada risiko resesi yang terjadi gabungan antara 1970an dan 2008, dan ini bisa sangat mengerikan.

Dalam artikel Majalah Time yang terbit Kamis (13/10/2022), Dr. Doom mengatakan dunia akan menuju “kebangkrutan besar-besaran dan krisis finansial yang berlarut-larut”.

Reuters pada Juli lalu merangkum beberapa negara yang sudah bangkrut dan memiliki risiko kebangkrutan dan krisis yang besar.

Lebanon sudah resmi mengalami kebangkrutan. September lalu dikabarkan sudah setuju melakukan 10 poin reformasi guna mendapat bantuan dari Dana Moneter International (IMF) senilai US$ 3 miliar.

Sri Lanka juga sedang bernegosiasi dengan IMF mengenai dana bailout senilia US$ 2,9 miliar, yang diperkirakan akan cari Desember mendatang. Sri Lanka juga sudah resmi mengalami kebangkrutan.

Argentina kembali menjadi pasien IMF awal tahun ini, untuk menggantikan program yang gagal pada 2018. IMF menyetujui review kedua dari program fasilitas pembiayaan tambahan senilai US$44 miliar, tanpa meminta syarat pencairan apapun.

IMF juga sudah menyetujui pencairan senilai US$3.8 miliar, sehingga menambah total pinjaman sekitar US$17.5 miliar dari plafon

Tunisia mengalami krisis finansial terburuk akibat pandemi Covid-19 kemudian perang Rusia-Ukraina. Fitch Rating memprediksi Tunisia akan mengalami defisit transaksi berjalan hingga 8,4% dari produk domestik bruto (PDB) di tahun ini, lebih tinggi dari 2021 sebesar 6,3%.

Tunisia juga sedang bernegosiasi dengan IMF untuk mendapatkan pinjaman senilai US$ 2 miliar – US$ 4 miliar untuk menghindari kebangkrutan.

“Besarnya pinjaman masih dalam negosiasi dan saya rasa di kisaran US$ 2 miliar sampai US$ 4 miliar, kami berharap akan mencapai kesepakatan dalam beberapa pekan ke depan,” kata gubernur bank sentral Tunisia, Marouane Abassi kepada Reuters pertengahan September lalu.

Ghana memiliki rasio utang terhadap PDB yang sangat tinggi, sekitar 85%. Hal ini diperburuk dengan jeblonya nilai tukar mata uang cedi sebesar 41% sepanjang tahun ini, dan inflasi pun meroket hingga 33,9% year-on-year (yoy) pada Agustus lalu.

Pemerintah Ghana pun saat ini tengah berunding dengan IMF agar mendapat paket batuan untuk men-support perekonomian.

Mesir dilanda capital outflow yang hingga US$ 20 miliar di tahun ini, berdasarkan estimasi JPMorgan. Rasio utang juga mencapai 95% dari PDB, FIM Partners memperkirakan Mesir harus membayar utang dalam bentuk hard currency senilai US$ 100 miliar dalam 5 tahun ke depan, termasuk US$ 3,3 miiliar dalam bentuk obligasi di 2024.

Pada Maret lalu, Mesir sudah mengajukan pinjaman baru, tetapi pada Juli lalu IMF mengatakan negara tersebut perlu membuat “kemajuan yang menentukan” dalam reformasi fiskal dan struktural.

Goldman Sachs memperkirakan Mesir perlu mendapat paket pinjaman senilai US$ 15 miliar dalam 3 tahun ke depan untuk pendanaan negara, tetapi pemerintahnya dilaporkan mengajukan angka yang lebih kecil.

Kenya harus membayar bunga pinjaman senilai 30% dari total pendapatannya. Kemudian nilai obligasinya anjlok hingga lebih dari 50%, dan jatuh tempo senilia US$ 2 miliar di 2024.

Rasio utang Kenya mencapai 70% dari PDB, dan juga mengajukan pinjaman lagi kepada IMF. Pada Juli lalu IMF sudah mencairkan pinjaman senilai US$ 235.6 juta.

Selain negara-negara tersebut, dalam masih ada Etiopia, El Savador, Pakistan, Belarusia, Nigeria hingga Ukraina yang masuk dalam rangkuman Reuters yang berada dalam risiko kebangkrutan.

Indonesia menjadi salah satu dari sedikit negara yang diperkirakan akan kuat menghadapi resesi global. Meski demikian, bukan berarti situasinya akan aman-aman saja. Risiko pelambatan ekonomi sudah pasti sangat tinggi.

IMF mempertahankan proyeksi ekonomi Indonesia untuk tahun ini sebesar 5,3%.

Namun, lembaga moneter internasional ini ternyata kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dari 5,2% menjadi 5% pada 2023.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *