Diperkosa Ayah dan Tetangga Hingga Melahirkan Bayi Laki-laki, Ketua P2TP2A Pangandaran : Bayinya Sehat

  • Bagikan
Diperkosa Ayah dan Tetangga Hingga Melahirkan Bayi Laki-laki, Ketua P2TP2A Pangandaran : Bayinya Sehat
Ketua P2TP2A Pangandaran Ida Nurlaela Wiradinata saat menjenguk kondisi PS pasca melahirkan

PANGANDARAN, JURNALJABAR.CO.ID – PS 18 tahun korban Pemerkosaan sang ayah dan tetangganya hari ini melahirkan bayi laki-laki di RSUD Pandega.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Kabupaten Pangandaran Ida Nurlaela Wiradinata berjanji akan membantu secara penuh kebutuhan persalinan gadis disabiltas korban pemerkosaan tersebut.

“Alhamdulillah tadi PS (18) melahirkan anak laki-laki sekitar pukul 22.00 WIB, dan bayinya sehat,” ujar Ida. Senin 15 Agustus 2022.

Menurut Ida, pengurusan persalinan dan kebutuhan kesehatan PS akan ditanggung Pemerintah Kabupaten Pangandaran dengan RSUD Pandega.

BACA JUGA :   Optimalisasi Fungsi JDIH, Begini Penjelasan Ketua DPRD Pangandaran

“Saat ini kondisi korban sudah membaik dan dinyatakan sehat,” katanya.

Ida menegaskan, setelah melahirkan untuk memastikan pelaku adalah ayahnya, pihak RSUD Pandega akan melakukan tes DNA.

“Tujuan dari tes DNA untuk memastikan bahwa pelaku yang sebenarnya hasil penyelidikan pihak kepolisian itu ayahnya dengan tetangganya,” terangnya.

P2TP2A Pangandaran, sambung Ida, akan terus mengawal kasus pelecehan seksual pada anak dibawah umur yang terjadi terhadap PS.

“P2TP2A sejak tahun 2016 sampai sekarang terus berupaya mencegah menangani pelecehan seksual pada anak,” aku Ida.

BACA JUGA :   Warga Kampung Cikandang Desa Cimareme Kini Miliki Sumber Air Bersih

Guna mencegah penurunan kasus, kata Ida, Pemkab Pangandaran mencetuskan Pangandaran Menekan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak dengan cara Jemput Bola (Paneker Perak Jebol).

“Program tersebut sudah berjalan mulai tahun 2021, dan sudah disosialisasikan ke 93 desa di 10 Kecamatan,” bebernya.

Ida berharap,dengan adanya Program Paneker Perak Jebol, tersebut masyarakat mengetahui dan paham mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Orang tua harus mempunyai kesadaran yang tinggi untuk mencegah, dan membatasi peluang terjadinya kekerasan ataupun pelecehan seksual di sekitar lingkungan sendiri,” pungkasnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.